Lynx berjalan perlahan kembali ke gua dengan tubuh lelah. Matahari mulai terbenam, memberikan warna keemasan pada dedaunan di sekitarnya. Langkahnya berat, tapi pikirannya jauh lebih sibuk daripada tubuhnya. Apa yang baru saja ia alami membuatnya gelisah.

Saat tiba di gua, Leena dan Sherly tengah duduk dekat api unggun kecil. Leena sedang membenahi ujung tongkatnya, sementara Sherly menyisir rambut panjangnya dengan tangan, tampak bosan.

Lynx melempar tubuhnya ke atas batu datar, menarik napas panjang. "Aku bertemu seseorang dari kampung itu," katanya tanpa prolog.

Leena langsung menoleh, pandangannya tajam. "Apa maksudmu? Kau bicara dengannya?"

Lynx menggeleng, lalu mulai menceritakan apa yang terjadi, dari bagaimana ia mengikuti pemburu itu, hingga serangan beruang, dan upayanya menyelamatkan pria tersebut. Ia menyampaikan semua dengan detail, termasuk keputusan untuk menyembunyikan pria itu sebelum meninggalkan lokasi.

"Orang-orang dari kampung itu mulai mencarinya," tambahnya. "Aku mendengar mereka memanggil nama... Karim, kurasa. Mereka akan menemukannya cepat atau lambat."

Leena tampak berpikir dalam-dalam, wajahnya serius. "Jadi mereka bukan seperti suku Monrest? Tidak ada tanda-tanda mereka berbahaya?"

Lynx menggeleng. "Tidak seperti Monrest yang agresif. Mereka tampak hidup damai. Tapi aku belum tahu apakah mereka bisa dipercaya."

Sherly mendengus kecil, melipat tangan di dadanya. "Kau terlalu gegabah, Lynx. Menolong mereka yang tidak dikenal bisa membuat kita dalam bahaya”.

Leena hanya menghela napas, dia menjadi semakin paham dengan kebaikan sifat yang dimiliki Lynx, suka membantu siapapun meski tidak kenal.

Beberapa hari setelah pertemuan Lynx dengan pria yang ia duga bernama Karim, Lynx, Leena, dan Sherly memutuskan untuk memantau kampung itu. Mereka bergerak perlahan melalui hutan, meniti jalur yang sunyi dengan kehati-hatian ekstra. Setiap langkah dijaga agar tidak menginjak ranting kering yang bisa memicu suara keras.

“Kita benar-benar akan mendekati kampung itu lagi?” bisik Leena, suaranya dipenuhi keraguan. Ia menoleh ke Lynx, yang memimpin di depan.

“Kita harus tahu lebih banyak tentang mereka,” jawab Lynx tanpa menoleh. “Kalau mereka sekutu, itu bisa membantu kita. Kalau tidak, kita perlu tahu ancamannya.”

Sherly mengikuti di belakang, matanya tajam mengawasi setiap bayangan di antara pepohonan. Ia tidak ikut berdebat, meskipun ada bagian dalam dirinya yang setuju dengan Leena.

Ketika mereka tiba di perbukitan yang menghadap ke kampung, Lynx mengangkat tangan, memberi isyarat berhenti. Mereka bertiga merunduk di balik semak belukar, memandang kampung kecil yang tampak damai di bawah. Anak-anak bermain di pinggir sungai, sementara orang dewasa sibuk dengan aktivitas mereka—memetik buah, menumbuk biji-bijian, atau merapikan atap pondok yang hampir roboh.

“Kelihatannya tenang,” gumam Sherly.

“Terlalu tenang,” jawab Lynx, matanya tetap waspada.

Namun, ketenangan itu tak bertahan lama. Suara gemuruh langkah kaki terdengar dari kejauhan. Leena menajamkan pendengarannya.

“Ada yang datang,” katanya dengan nada cemas.

Lynx menegangkan tubuhnya. Dari bayangan hutan, muncul sekelompok besar pria dan wanita bersenjata—suku Monrest. Mereka menyerbu kampung dengan kecepatan mengejutkan.

Jeritan menggema saat suku Monrest menyerbu. Anak-anak yang bermain di sungai lari tunggang-langgang, sementara para penduduk dewasa mencoba melindungi diri dengan peralatan seadanya.

“MONREST!” teriak seseorang di kampung.

Salah satu suku Monrest melepaskan panah, mengenai seorang pria yang mencoba melindungi keluarganya. Pria itu jatuh ke tanah, darah mengalir dari dadanya. Seorang wanita menangis, menarik tubuh pria itu sambil berteriak, tetapi ia dipukul mundur oleh Monrest bertubuh besar. Mereka lalu terlihat memberi perintah untuk berkumpul.

Dari balik semak-semak, Lynx, Leena, dan Sherly menyaksikan dengan perasaan tegang dan tidak berdaya. Kampung yang tadi tampak damai kini penuh dengan kekacauan. Jeritan dan tangis anak-anak bercampur dengan tawa kasar para Monrest, menciptakan suasana yang membuat perut mereka mual.

Di tengah kerumunan penduduk yang gemetar ketakutan, seorang pria tua keluar dari salah satu pondok. Langkahnya tertatih-tatih, tangan kurusnya memegang bundelan besar yang terbuat dari daun kering. Wajahnya kusut dan penuh guratan usia, namun matanya memancarkan kepasrahan mendalam.

Di belakangnya, beberapa orang muda membantu membawa bundelan serupa—tumpukan gandum, kantong penuh akar obat-obatan, dan gulungan kulit binatang. Penduduk kampung memandang dengan penuh cemas, tahu bahwa meskipun mereka memberikan apa yang diminta, Monrest selalu menginginkan sesuatu yang lebih.

Pria tua itu berhenti di hadapan seorang pria besar dengan bekas luka panjang di wajahnya—pemimpin Monrest. Ia menundukkan tubuhnya dengan penuh hormat, nyaris menyentuh tanah. Suaranya serak dan bergetar saat ia berbicara.

“Ini... ini semua yang kami miliki,” katanya dengan nada rendah, menyerahkan bundelan itu. “Gandum hasil panen kami... obat-obatan dari hutan... dan kulit binatang dari musim terakhir. Kami harap... ini cukup untuk memenuhi permintaan kalian.”

Pemimpin Monrest, pria bertubuh kekar bernama Kargo, menyeringai sinis sambil meraih salah satu bundelan. Ia merobek bungkusan daun itu dan melihat isinya—gandum yang dikeringkan dengan hati-hati.

“Cukup?” katanya sambil tertawa kecil. Suaranya berat, penuh cemoohan. “Kalian pikir ini cukup untuk memberi makan suku kami? Untuk menyembuhkan luka kami? Untuk melindungi kami dari dinginnya malam?”

Pria tua itu gemetar, menjatuhkan lututnya ke tanah. “Maafkan kami... kami telah memberikan semua yang kami miliki. Panen kami buruk tahun ini, dan kulit binatang sulit didapat...”

“Berhenti mencari alasan, tua bangka!” bentak salah satu prajurit Monrest, menghentakkan kakinya ke tanah. “Kalian hanya malas!”

Kargo melangkah maju, menjatuhkan bundelan gandum itu ke tanah dengan gerakan lamban namun penuh intimidasi. Ia kemudian melirik ke arah penduduk kampung lainnya, matanya seperti memindai, mencari sesuatu.

“Kalau kalian tidak punya cukup upeti,” katanya dengan nada dingin, “kalian akan memberi kami sesuatu yang lebih berharga.”

Penduduk kampung saling memandang, ketakutan mulai merambat di antara mereka. Beberapa mencoba mundur, tetapi prajurit Monrest sudah bergerak untuk mengepung mereka.

“Ambil orang-orang muda,” perintah Kargo. “Lima pria, lima wanita. Mereka akan bekerja untuk kami, untuk mengganti kekurangan kalian. Dan jika kalian berani melawan...” Ia tersenyum dingin, melirik api kecil yang menyala di dekat pondok. “Kampung ini akan menjadi abu.”

Jeritan terdengar ketika para prajurit Monrest mulai menarik pemuda dan pemudi dari kerumunan. Seorang wanita muda menangis ketika lengannya dicengkeram kasar, sementara seorang pria mencoba melawan tetapi langsung dipukul dengan gagang tombak.

“Jangan! Tolong jangan ambil dia!” teriak seorang ibu, meraih tangan putrinya yang masih belia. “Dia masih anak-anak! Dia tidak kuat bekerja!”

Prajurit Monrest menendang wanita itu hingga tersungkur, lalu menarik gadis itu dengan kasar. Gadis itu menangis, tetapi tidak ada yang berani mendekat untuk membantu.

Karim, yang berdiri di tepi kerumunan bersama adiknya, memeluk gadis itu erat. “Tidak” katanya dengan suara bergetar, suaranya penuh tekad meski tubuhnya bergetar. “Aku tidak akan membiarkan mereka membawamu.”

Namun, salah satu Monrest sudah memperhatikan mereka. Dengan langkah cepat, ia mendekati Karim dan mencengkeram lengan gadis itu.

“Yang ini juga,” katanya sambil menariknya kasar.

“Tidak!” Karim berteriak, mencoba menahan. Tapi Monrest lainnya menghantamnya dengan lutut di perut, membuatnya tersungkur ke tanah. Gadis itu meronta, tangisnya memenuhi udara, tetapi tidak ada yang berani mendekat untuk membantu.

“Lepaskan dia!” bentak salah satu prajurit, menghampiri Karim dan menghantamkan gagang tombaknya ke punggung pria itu. Karim tersungkur ke tanah, tetapi ia tetap mencoba melindungi adiknya dengan tubuhnya.

“Dia milikku!” teriak prajurit itu sambil mencengkeram rambut gadis itu.

“Tidak!” Karim berteriak lagi, meraih kaki prajurit tersebut. Namun, ia dihantam sekali lagi hingga tergeletak lemas.

“Sudah cukup!” suara Kargo bergema, menghentikan keributan sejenak. Ia melangkah mendekati Karim yang masih mencoba merangkak. Ia menginjak punggung Karim hingga pria itu tidak bisa bergerak.

“Orang-orang seperti ini... terlalu keras kepala untuk tahu tempatnya,” kata Kargo dengan senyum sinis. “Bawa adiknya. Dan kalau dia mencoba melawan lagi, bunuh dia di tempat.”

Adik Karim menjerit saat ia ditarik pergi, air matanya bercucuran. “Kakak! Kakak!”

Karim hanya bisa mengerang, tubuhnya lemas akibat pukulan.

Lynx, Leena, dan Sherly menyaksikan semuanya dari tempat persembunyian mereka, hati mereka mencelos melihat pemandangan ini.

“Ini keji...” bisik Leena, suaranya bergetar. Air mata menggenang di matanya, tetapi ia tetap diam, menahan diri untuk tidak bergerak.

“Kita harus menghentikan mereka!” kata Lynx dengan suara penuh kemarahan.

“Bagaimana?!” Sherly menoleh tajam, matanya menyipit. “Kau lihat mereka. Mereka punya senjata, dan jumlah mereka puluhan orang! Apa kau mau mati di sini sekarang?”

Lynx menggertakkan giginya, mengepalkan tinjunya hingga kuku-kukunya menggali telapak tangannya. “Kita tidak bisa membiarkan ini terus terjadi. Kita harus melakukan sesuatu!”

Sherly tidak menjawab, tetapi pandangannya tetap gelisah.

“Kau mau bunuh diri?!” bisik Sherly dengan nada tajam. “Kita kalah jumlah, Lynx!”

Leena menutupi mulutnya, air mata mengalir di wajahnya saat ia melihat keluarga-keluarga dipisahkan secara paksa. “Tapi... kita tidak bisa hanya diam...”

“Aku tidak peduli seberapa banyak mereka,” gumamnya, suaranya pelan tapi tegas. “Mereka harus dihentikan.”

Kargo berbalik ke arah penduduk yang tersisa. “Kami akan kembali beberapa bulan lagi untuk mengambil upeti berikutnya. Pastikan kalian punya lebih banyak saat itu. Dan ingat,” ia menambahkan dengan seringai dingin, “jangan coba-coba melarikan diri, atau kami akan membakar tempat ini sampai ke akarnya.”

Salah satu pemimpin suku Monrest, seorang pria bertubuh kekar dengan bekas luka besar di wajahnya, berjalan ke tengah kampung dengan langkah angkuh.

“Bakar,” katanya dengan suara dingin.

Salah satu suku Monrest melemparkan obor ke salah satu pondok jerami. Dalam hitungan detik, api berkobar dan menjalar. Para penduduk yang masih hidup berusaha memadamkan api, tetapi mereka dipukul mundur oleh para penjaga Monrest.

Lynx melihat seorang wanita tua tersandung, hampir tertelan oleh api. Ia meraih tangan Leena dengan keras.

“Kita harus melakukan sesuatu!”

“Kita tidak bisa, Lynx!” bisik Leena, air matanya mengalir. “Kita tidak bisa...”

Leena berusaha menahan tangan Lynx, karena dia tidak ingin Lynx kesana hanya untuk mengantar nyawa tanpa bisa melawan.
